
Kegiatan Kajian Al-Qur’an Maghrib Isya’ (Kamisya) pekan ini mengusung tema “Stay Close with Qur’an” dengan menghadirkan Ustazah Lailatul Fithriyah Azzakiyyah, M.Pd.I. sebagai narasumber tunggal, pada Kamis (23/10/2025). Wakil Ketua PDA Kota Malang tersebut membuka kajian dengan pertanyaan reflektif kepada para mahasiswa.
“Bagaimana interaksi kita dengan al-Qur’an? Kita lihat gambar-gambar ini (menunjuk materi), cukup menjadi refleksi kita sekalian. Saat ini, kita lebih akrab dengan HP daripada dengan Al-Qur’an. Yang lebih banyak menyita waktu kita adalah HP daripada Al-Qur’an,” ucap penggagas metode Tahfiz Qur’an Tematik (TQT).
Hakikat dan Mukjizat Agung Al-Qur’an
Lebih lanjut, pengasuh Kajian Keislaman Muslimah Indonesia Diaspora itu menjelaskan hakikat Al-Qur’an sebagai mu‘jizat Agung (Q.S. 2:23; 11:13; 17:88), penutup kitab samawi (Q.S. 16:63–64), berlaku universal (Q.S. 38:87; 68:52), kitab abadi (Q.S. 41:41–42; 86:13–14), sekaligus kitab inspirasi ilmu pengetahuan, seperti ajakan untuk mentadabburi alam semesta (Q.S. Ali ‘Imran: 190–191).
“Di antara mukjizat agung Al-Qur’an dari aspek ilmiah terdapat pada ayat ‘Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan’ (Q.S. an-Naml: 88),” jelasnya.
“Bagaimana kita memaknai ayat ini? Di sinilah pentingnya penelitian dilakukan.”
Mengutip penjelasan Prof. Quraish Shihab dalam buku Mukjizat Al-Qur’an, Laila menyampaikan bahwa setelah turunnya ayat tersebut, para ilmuwan geologi melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa gunung-gunung memang mengalami pergeseran. Penelitian yang dilakukan di wilayah Irak dan Suriah menemukan bahwa gunung di Irak perlahan bergerak mendekati gunung di Suriah, hal ini membenarkan isyarat ilmiah Al-Qur’an tentang gerak bumi dan pegunungan.
Mukjizat ilmiah lain, lanjutnya, terdapat dalam Q.S. al-Qamar ayat 13:
“Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.”
Menurut Laila, penyebutan papan dan paku bukanlah tanpa makna. “Bahan baku kapal Nabi Nuh adalah dari papan dan paku. Al-Qur’an memilih dua kata ini tentu mengandung rahasia ilmiah,” jelasnya. Beberapa penelitian arkeologis modern juga menyinggung keberadaan kapal Nabi Nuh yang diyakini berada di sekitar Gunung Ararat, Turki. Temuan-temuan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara teks Al-Qur’an dan bukti arkeologis berupa sisa-sisa struktur kayu atau papan dan pasak (paku), yang hingga kini masih terus diteliti oleh para ahli.
Magnet Keberkahan Al-Qur’an
“Ketika membaca dan mendengarkan Al-Qur’an, kita akan mendapatkan keberkahan darinya. Mendengarkan saja sudah berpahala, apalagi jika memahami, mentadabburi, dan mengamalkan nilai-nilainya,” tutur Penyuluh Agama Islam di KUA DAU.
Menurutnya, di antara magnet keberkahan yang diperoleh dari interaksi dengan Al-Qur’an adalah: mendapat rahmat ketika mendengarkannya (Q.S. al-A‘raf: 204), mendapat pahala berlipat ketika membacanya (Q.S. Fathir: 29–30), mendapat hikmah dan ketenangan ketika mentadabburinya (Q.S. Shad: 29), mendapat petunjuk hidup ketika mengamalkan kandungannya, serta, mendapat syafaat di hari kiamat bagi para pembacanya.
Tujuh Langkah Mempelajari Al-Qur’an
Ustazah Laila juga memaparkan tujuh tahapan dalam mempelajari Al-Qur’an secara komprehensif. Pertama, tartil yakni membaca Al-Qur’an dengan benar, perlahan, dan memperhatikan kaidah tajwid. Kedua, tarjamah berarti memahami makna lafaz-lafaz Al-Qur’an secara bahasa.
Berikutnya, tafsir yakni menafsirkan kandungan ayat secara lebih mendalam dengan konteks sejarah dan ilmu penunjang. Keempat ada ta‘lim, mempelajari Al-Qur’an dari sisi ilmiah dan rasional untuk memperluas pemahaman.
Kelima, tahapan tadabbur yakni merenungi pesan dan hikmah dari ayat-ayat Al-Qur’an. Keenam, tadarrus yakni membaca, mempelajari, dan mengulang-ulang bacaan serta kandungannya agar maknanya semakin tertanam. Tahapan terakhir tabligh yakni menyampaikan dan mengajarkan isi Al-Qur’an kepada orang lain sebagai bentuk dakwah.
Ia menutup kajian dengan mengutip pernyataan Abdullah Darraz, seorang tokoh pemikiran Al-Qur’an, “Ayat Al-Qur’an itu bagaikan intan; setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dari sudut lainnya. Tidak mustahil, jika kita mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak daripada apa yang kita lihat.”
Ungkapan ini, menurut Laila, menggambarkan bahwa Al-Qur’an adalah sumber inspirasi yang tak pernah habis bagi siapa pun yang ingin mempelajari dan memahaminya secara mendalam. (anny/aik)