Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini melangkah lebih jauh dalam mendefinisikan pendidikan tinggi yang bermakna. Melalui buku pedoman ini, UMM menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan agama bukanlah dua entitas yang saling membelakangi, melainkan satu kesatuan yang bersumber dari Sang Pencipta. Buku ini bukan sekadar panduan teknis kurikulum, melainkan manifesto untuk mencetak lulusan yang tidak hanya ahli di bidangnya, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual yang kokoh.

Inti dari gerakan integrasi ini adalah nilai-nilai utama yang dikenal dengan akronim IIIMAN (Ikhlas, Ihsan, Itqan, Ma’iyyah, Amanah, dan Nazahah). Nilai-nilai ini dijadikan sebagai “ruh” atau living values yang menggerakkan setiap sendi Catur Dharma Perguruan Tinggi—mulai dari cara dosen mengajar di kelas, metode peneliti di laboratorium, hingga bagaimana civitas akademika berinteraksi dengan masyarakat. Dengan IIIMAN, seorang profesional di masa depan diharapkan bekerja dengan integritas tinggi dan dedikasi total sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.

Mengapa integrasi ini sangat krusial? UMM berupaya menghapus dikotomi atau pemisahan antara “ilmu umum” dan “ilmu agama” yang selama ini sering membuat sains terasa kering dari nilai moral, atau sebaliknya, agama terasa jauh dari realitas perkembangan teknologi. Melalui buku ini, Islam diposisikan sebagai sumber inspirasi, motivasi, dan perspektif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEKS). Mahasiswa diajak untuk melihat bahwa setiap penemuan sains adalah jejak kebesaran Tuhan yang harus diungkap demi kemaslahatan manusia.

UMM menerapkan pendekatan yang cerdas dan fleksibel yang disebut Model Integrasi Dinamis Eklektik (Eclectic Dynamism Model of Integration). Integrasi ini tidak dilakukan secara kaku atau sekadar melakukan “cocoklogi” ayat (ayatisasi), melainkan dengan cara merekonstruksi ilmu pengetahuan secara mendalam sesuai karakteristik disiplin ilmu masing-masing. Untuk memudahkan penerapannya, seluruh program studi di UMM dibagi ke dalam lima klaster keilmuan, mulai dari klaster Keislaman, Sosial Humaniora, Kependidikan, Kedokteran dan Kesehatan, hingga Teknologi.

Pada akhirnya, pedoman integrasi AIK ini adalah peta jalan untuk mewujudkan profil “Dokter Muslim Sejati”, “Sarjana Hukum yang Humanis”, hingga “Insinyur yang Religius”. UMM berkomitmen bahwa setidaknya 50% mata kuliah di setiap program studi harus terintegrasi dengan nilai-nilai AIK. Langkah berani ini adalah bagian dari visi besar UMM untuk menjadi pusat peradaban yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitas spiritualnya, mencetak generasi yang cerdas secara intelektual namun tetap rendah hati di hadapan Tuhan.

 

PDF
Pedoman Pendidikan AIK PTM
Universitas Muhammadiyah Malang.
PDF • 99 Halaman • 1.23 MB

⬇ Download PDF