Pradana Boy ZTF menyampaikan materi dalam kegiatan Kuliah Sabtu Subuh AIK II di Masjid AR Fachruddin UMM. (Sumber foto: Akram)

Universitas Muhammadiyah Malang melalui kegiatan Kuliah Sabtu Subuh kembali menghadirkan kajian keislaman bagi mahasiswa di Masjid AR Fachruddin UMM pada Sabtu, 16 Mei 2026. Kegiatan dimulai sejak pukul 03.00 WIB hingga selepas shalat Subuh berjamaah.

Sejak jam 03.00, mahasiswa telah hadir untuk melakukan presensi dan melaksanakan shalat sunnah sebelum dilanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah. Setelah itu, kegiatan diisi dengan kajian keislaman bersama narasumber, Pradana Boy ZTF.

Dalam pengantarnya, Pradana Boy menegaskan bahwa salah satu kunci kemajuan peradaban Islam terletak pada kedisiplinan umat dalam memulai hari sejak pagi. Menurutnya, Rasulullah SAW telah memberikan teladan agar umat Islam tidak kembali tidur setelah bangun pagi karena waktu pagi menyimpan keberkahan dan produktivitas.

“Kalau ingin membangun peradaban Islam yang kuat, salah satu kuncinya adalah konsisten bangun pagi,” ungkap Pradana Boy yang juga menjabat sebagai Asisten Penasehat Khusus Presiden Bidang Haji Republik Indonesia.

Ibadah Tidak Boleh Berhenti pada Ritual

Dalam kajiannya, Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah Jawa Timur tersebut menyampaikan hasil refleksi dari survei sederhana kepada mahasiswa mengenai makna ibadah. Mayoritas mahasiswa masih memaknai ibadah sebatas ritual individual seperti shalat, puasa, dan dzikir. Padahal, menurutnya, Islam mengajarkan bahwa ibadah harus melahirkan dampak sosial.

Untuk menjelaskan fenomena tersebut, Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah itu memetakan tiga ekspresi keberagamaan dalam kehidupan sosial.

Pertama, beragama secara simbolis, yakni seseorang yang tampak sangat Islami secara atribut dan pakaian, tetapi perilaku sosialnya tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Kedua, beragama secara substantif, yaitu seseorang yang mungkin secara penampilan tidak dianggap religius, namun memiliki kepedulian sosial tinggi dan membantu sesama. Ketiga, beragama secara simbolis sekaligus substantif, yakni memadukan identitas keislaman dengan akhlak sosial yang baik. Menurutnya, ekspresi ketiga inilah yang perlu diteladani.

Pradana Boy kemudian menceritakan percakapannya dengan seorang kawan terkait istilah “baju takwa”. Menurutnya, tidak ada jaminan seseorang yang mengenakan baju koko dan kopiah otomatis menjadi pribadi bertakwa. Namun, pakaian takwa memiliki pesan moral sebagai benteng pengingat ketika seseorang hendak melakukan keburukan.

Mengapa Agama Belum Melahirkan Perubahan Sosial?

Dalam kajian tersebut, ia juga mengangkat pertanyaan besar mengapa agama belum sepenuhnya melahirkan perubahan sosial. Menurutnya, terdapat tiga penyebab utama. Pertama, ibadah masih dipahami sebagai ritual individual semata. Kedua, adanya kesenjangan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Ketiga, kontradiksi masyarakat religius yang masih diwarnai korupsi, intoleransi, kemiskinan struktural, dan ketimpangan sosial.

Mengutip lagu Rhoma Irama, Pradana Boy menyoroti realitas sosial yang masih terjadi di tengah masyarakat. “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, itu adalah bentuk nyata ketimpangan sosial yang masih kita hadapi hari ini,” ujarnya.

Hakikat Ibadah: Membentuk Manusia Beradab

Mengacu pada QS. Adz-Dzariyat ayat 56, Pradana Boy menjelaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah SWT. Namun, ibadah dalam Islam memiliki dimensi yang luas dan terhubung langsung dengan kehidupan sosial.

Pradana Boy juga mengutip pemikiran Syed Naquib al-Attas bahwa ibadah melahirkan manusia beradab atau insan adabi. Menurutnya, ibadah sejati akan melahirkan ilmu, akhlak, adab, dan keadilan dalam kehidupan. Sementara Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa Islam menghapus dikotomi antara ibadah dan urusan sosial.

“Ibadah dan kehidupan sosial itu tidak bisa dipisahkan. Islam tidak mengenal pemisahan antara keduanya,” tegas dosen Prodi Hukum Keluarga Islam FAI UMM tersebut.

 

Tauhid Sosial dan Kesadaran Profetik

Dalam pembahasan mengenai tauhid sosial, Pradana Boy menjelaskan bahwa tauhid sejatinya membebaskan manusia dari berbagai bentuk penyembahan selain kepada Allah, baik penyembahan terhadap kekuasaan, materialisme, manusia, maupun ketidakadilan sosial. Ia mencontohkan kesombongan Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan tertinggi sebagai bentuk penyimpangan tauhid yang melahirkan penindasan sosial.

Ia juga mengingatkan pesan Nabi Muhammad SAW bahwa seluruh manusia memiliki derajat yang sama seperti gigi-gigi sisir, dan kemuliaan seseorang hanya diukur dari ketakwaannya.

Menurutnya, kisah para nabi selalu dimulai dari penguatan tauhid yang kemudian melahirkan kesadaran profetik, yaitu kesadaran untuk menghadirkan keadilan dan perubahan sosial di tengah masyarakat.

Shalat Mengajarkan Kesetaraan dan Solidaritas

Pada bagian akhir kajian, Pradana Boy menjelaskan makna sosial shalat. Shalat, menurutnya, mengajarkan kesetaraan karena semua manusia berdiri sejajar di hadapan Allah tanpa memandang jabatan dan status sosial. Shalat juga mendidik umat Islam untuk disiplin terhadap waktu, membangun solidaritas berjamaah, serta menumbuhkan sikap rendah hati dan anti kesombongan.

“Di dalam shalat tidak ada orang yang karena jabatannya harus selalu di depan. Semua berdiri sama di hadapan Allah,” pungkasnya.

Kegiatan Kuliah Sabtu Subuh ini menjadi bagian dari ikhtiar Universitas Muhammadiyah Malang dalam membangun tradisi intelektual dan spiritual mahasiswa agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan nilai-nilai keislaman yang berkemajuan.

Menutup kajiannya, Pradana Boy ZTF menegaskan bahwa keberagamaan merupakan sebuah proses panjang yang harus terus dijalani oleh setiap muslim. Menurutnya, kesalehan tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh melalui pendidikan, pembiasaan, dan pengalaman hidup yang terus diasah.

“Beragama adalah sebuah proses. Tanpa menjalani proses, kita sulit mengalami peningkatan. Tidak ada pribadi saleh baik secara ritual maupun sosial yang terbentuk secara instan. Semoga proses pendidikan di UMM menjadi ruang untuk menumbuhkan pribadi yang saleh; saleh secara ritual ibadah, dan juga saleh secara sosial,” tutupnya. (anny/aik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *