Dr. dr. Sri Sunarti, Sp.PD- KGer mengajak mahasiswa UMM untuk bangun kepedulian terhadap lansia, orang tua yang merawat mereka. (Sumber Foto: Akram)

Kuliah Sabtu Pagi (KSP) pekan terakhir digelar pada Sabtu, 20 Desember 2025. Kegiatan ini diawali dengan proses check-in pukul 05.00–06.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan shalat Dhuha berjamaah serta kajian keislaman.

Mengangkat tema “Membangun Generasi Peduli Lansia: Refleksi Islam Berkemajuan bagi Usia Lanjut”, KSP menghadirkan Dr. dr. Sri Sunarti, Sp.PD- KGer. sebagai narasumber utama. Wakil Ketua Muhammadiyah Senior Care (MSC) tersebut mengawali sesi dengan berbagi pengalaman keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kerelawanan yang berfokus pada pendampingan korban bencana dan pelayanan lansia.

Dalam pemaparannya, dr. Sunarti mengajak mahasiswa untuk merefleksikan peran generasi muda dalam merespons tantangan penuaan penduduk. “What should you do sebagai generasi muda yang peduli lansia?” tanyanya. Ia menjelaskan bahwa saat ini proporsi lansia di Indonesia telah mencapai lebih dari 10 persen dan akan terus meningkat seiring waktu. “Di saat kamu menjadi pemimpin populasi lansia akan naik bisa jadi 15 persen,” ujarnya.

Masalah yang Dihadapi Para Lansia

Pada sesi berikutnya, dr. Sunarti menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi kelompok lanjut usia, salah satunya terkait relasi dan komunikasi dalam keluarga. Ia menekankan pentingnya menjaga komunikasi rutin dengan orang tua. Menurutnya, terdapat istilah isolasi sosial yang kerap dialami lansia dan menjadi salah satu faktor risiko utama yang dapat menurunkan peluang mereka untuk mencapai penuaan yang sehat.

Isolasi sosial yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memicu rasa kesepian sebagai respons psikososial. Kesepian tidak selalu berdampak secara langsung, namun pengaruhnya menjadi signifikan ketika dialami bersamaan dengan isolasi sosial. Lansia yang mengalami kedua kondisi tersebut memiliki peluang penuaan sehat yang lebih rendah dibandingkan dengan lansia yang memiliki hubungan sosial yang baik. “Sering-seringlah menanyakan kabar dengan orang tua, video call gitu, ya,” ajaknya.

Sunarti menegaskan bahwa perhatian sederhana dari keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental lansia. Dukungan sosial menjadi fondasi bagi kesejahteraan psikologis, terutama pada usia lanjut. “Just say hello itu social support. Dalam komunitas apapun kalian, just say hello dengan orang sekitar,” ujarnya. Dukungan sosial yang baik, lanjutnya, dapat membantu menciptakan kondisi psikologis yang lebih sehat bagi para lansia.

Suasana Kuliah Sabtu Pagi (KSP), 20 Desember 2025 di Masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang. (Sumber Foto: Akram)

Membangun Kepedulian terhadap Lansia

Kepedulian terhadap lansia perlu dibangun melalui keterlibatan nyata generasi muda dalam berbagai aktivitas yang mempertemukan mereka secara langsung dengan kelompok usia lanjut. Partisipasi dalam kegiatan bersama lansia seperti therapeutical garden melalui aktivitas berkebun dan panen bersama, olahraga dan senam lansia, hingga brain games atau permainan kognitif dapat memberikan pengalaman konkret bagi remaja untuk memahami kebutuhan fisik dan psikososial lansia.

Sebagaimana disampaikan narasumber, “Jika ada lansia yang rentan jatuh, maka para sarjana teknik bisa membantu membuat kursi untuk lansia. Misalnya, jika ada lansia yang memiliki kerentanan dalam penglihatan, generasi muda dapat membantu merancang atau menyempurnakan alat bantu yang lebih aman dan ramah.”

Selain keterlibatan dalam aktivitas, kepedulian juga dapat ditumbuhkan melalui kegiatan sukarela dan pendampingan. Program relawan yang mendampingi lansia, baik di rumah maupun di komunitas, membuka ruang bagi generasi muda untuk berperan sebagai fasilitator dan pendamping.

Upaya membangun kepedulian tersebut perlu diperkuat melalui pendidikan dan penyuluhan. Materi mengenai lansia dan proses penuaan dapat diintegrasikan dalam pendidikan formal maupun kegiatan nonformal, seperti diskusi, pelatihan, atau kajian tematik. Isu lansia juga dapat disosialisasikan melalui berbagai media mulai dari brosur, poster, infografis, media sosial, hingga aplikasi edukasi agar pesan kepedulian menjangkau generasi muda secara luas dan berkelanjutan.

Interaksi lintas generasi menjadi elemen penting dalam menumbuhkan rasa saling memahami. Kegiatan yang mempertemukan lansia dan generasi muda, seperti reminiscence dan story telling, memberi ruang bagi lansia untuk berbagi pengalaman hidup sekaligus mengajarkan remaja untuk mendengar dan menghargai perjalanan hidup orang lain. Dalam konteks keluarga, hal ini juga dapat dimulai dari ruang paling dekat, “Nanti, anak-anakmu mainkan dengan nenek kakekmu,” pesan Sunarti.

Lebih jauh, kepedulian akan semakin bermakna ketika generasi muda diberi pengalaman pemberdayaan. Melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan kegiatan lansia atau program komunitas mendorong rasa memiliki dan tanggung jawab. Generasi muda tidak hanya diposisikan sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu merancang solusi bagi kelompok rentan, termasuk lansia.

Di sesi penutup, dokter ahli penyakit dalam ini berpesan agar seluruh upaya tersebut bermuara pada penumbuhan kesadaran dan empati. Edukasi tentang pentingnya mendukung lansia baik untuk meningkatkan kualitas hidup maupun kesejahteraan mental perlu disampaikan melalui pendekatan yang interaktif dan aplikatif. Dengan demikian, kepedulian tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir sebagai sikap hidup yang terus dipraktikkan dalam keseharian. (anny/aik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *