
Kuliah Sabtu Subuh (KSS) batch kedua bagi mahasiswa peserta mata kuliah AIK II (Ibadah dan Muamalah) kembali digelar pada Sabtu (23/5/2026). Kegiatan yang berlangsung dengan penuh antusias ini mengangkat tema “Hidup di Era Personal Branding” dengan menghadirkan narasumber Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos., M.Si
Dalam pemaparannya, Luluk menjelaskan bahwa personal branding menjadi bagian penting dalam kehidupan generasi Z yang tumbuh di tengah derasnya arus media digital dan media sosial. Menurutnya, generasi saat ini hidup dalam budaya eksposur publik yang menuntut setiap individu mampu memperkenalkan dan mempromosikan dirinya secara positif.
“Secara teori sudah banyak penjelasan tentang personal branding, bagaimana kita mempromosikan diri agar masyarakat mampu membentuk persepsi tentang siapa diri kita sebenarnya,” ujarnya.
Wakil Dekan II FISIP UMM ini menekankan bahwa mahasiswa harus mampu membangun identitas yang sesuai dengan kapasitas dan nilai yang dimiliki. Sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, ucap Luluk, penting untuk membangun persepsi diri sebagai pribadi yang intelektual, berintegritas, religius, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Luluk juga menyinggung fenomena tokoh-tokoh publik yang banyak diikuti generasi Z di media sosial. Menurutnya, figur-figur tersebut umumnya berhasil memperkenalkan diri mereka melalui karya, gagasan, kemampuan komunikasi, maupun konsistensi konten yang mereka tampilkan kepada publik.
Metode POAC dalam Membangun Citra Diri
Dalam membangun personal branding, Luluk mengenalkan metode POAC, yakni planning, organizing, actuating, dan controlling. Tahap perencanaan dilakukan dengan menentukan citra diri yang ingin dibangun, kemudian mengorganisasi kemampuan dan potensi yang dimiliki. Setelah itu, seseorang perlu menampilkan diri secara konsisten di ruang publik dan melakukan evaluasi terhadap citra yang telah terbentuk di masyarakat.
“Menarik tidak selalu soal fisik, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir, keterampilan komunikasi, karya, prestasi, hingga kontribusi sosial,” jelas Asesor Kompetensi LSP UMM.
Ia menambahkan, ada banyak cara membangun branding diri, mulai dari bidang seni budaya, pendidikan, kepemimpinan, literasi digital, hingga aktivitas sosial kemasyarakatan. Karena itu, mahasiswa perlu menemukan kekhususan dan potensi terbaik yang dimiliki agar memiliki nilai pembeda yang positif.
“Mahasiswa UMM harus percaya diri. Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan bisa memberi manfaat bagi orang lain,” tegasnya.
Manfaat Branding dan Peluang di Era Digital
Lebih lanjut, Luluk menjelaskan bahwa personal branding memiliki banyak manfaat, di antaranya adalah meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan publik, memperluas jaringan dan kesempatan, membantu seseorang lebih menonjol di tengah persaingan, hingga membuka peluang baru dalam pendidikan maupun karier.
“Branding bisa menjadi arena atau field untuk menebar ilmu dan pengaruh yang bermanfaat,” katanya. Namun demikian, ia mengingatkan adanya fenomena kesenjangan antara identitas digital dan realitas diri. Dalam konsep hiperrealitas, seseorang sering kali menampilkan kehidupan yang tampak sempurna di media sosial, padahal tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan media membuat manusia dibanjiri simbol dan citra buatan yang terkadang lebih dianggap penting dibanding realitas sesungguhnya. Luluk mencontohkan kebiasaan mengunggah foto makanan sebelum dimakan, penggunaan filter wajah berlebihan, hingga pencitraan kehidupan mewah demi mendapatkan pengakuan sosial.
Karena itu, Luluk mengajak mahasiswa untuk membangun citra diri yang otentik, jujur, dan bermanfaat. Personal branding, katanya, dapat dibangun melalui ilmu pengetahuan, karya, kepedulian sosial, maupun konten edukatif yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Personal Branding dalam Perspektif Islam
Dalam perspektif Islam, personal branding tidak semata bertujuan mengejar popularitas, melainkan menjadi manifestasi pribadi yang profesional, autentik, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Nilai tersebut selaras dengan QS. at-Taubah ayat 105 yang menekankan pentingnya membuktikan kapasitas diri melalui karya nyata dan amal saleh, bukan sekadar pencitraan.
Selain itu, QS. ali Imran ayat 134 juga menggambarkan karakter unggul yang layak dijadikan teladan, seperti kepedulian sosial, sifat dermawan, serta kemampuan mengendalikan emosi.
Menutup kajiannya, Luluk menegaskan bahwa eksposur publik seharusnya menjadi sarana membangun citra diri positif dengan pola pikir rasional, kritis, bermoral, humanis, dan religius. Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi ruang pencitraan, tetapi juga wadah menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama. (anny/aik)