
Kuliah Sabtu Pagi (KSP) pekan ketiga kembali digelar pada Sabtu, 13 Desember 2025. Kegiatan ini diawali dengan proses check-in pukul 05.00–06.00 WIB, dilanjutkan dengan shalat Dhuha serta kajian keislaman. Mengangkat tema “Kepemimpinan Berkemajuan: Membangun Integritas Gen Z di Ruang Sosial”, KSP menghadirkan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, M. Sri Wahyudi, S.S.E., M.E., Ph.D sebagai narasumber utama.
Dalam penyampaiannya, Wahyudi menekankan pentingnya menjaga keimanan di tengah dinamika kehidupan modern. “Hadir di forum ini menjadi bagian dari menjaga keyakinan kita,” tuturnya. Ia mengawali pemaparannya dengan mengisahkan seorang tokoh, Abdah bin Abdurrahman, seorang hafizh Al-Qur’an yang murtad di akhir hayatnya. Kisah tersebut menjadi refleksi bahwa keimanan merupakan sesuatu yang mahal dan perlu dijaga secara konsisten.
Menurutnya, aktivitas ibadah dan kajian di masjid memberikan suasana yang berbeda dari rutinitas keseharian. Kedekatan dengan Allah dan nilai-nilai kebaikan dapat tumbuh melalui forum-forum seperti ini. Oleh karena itu, kegiatan keagamaan dinilai penting untuk terus dipelihara oleh generasi muda saat ini.
Wahyudi juga mengulas konsep kepemimpinan dalam Islam. Ia merujuk QS. al-Baqarah ayat 30 yang menegaskan peran manusia sebagai khalifah di bumi. “Kita semua adalah khalifah,” tegasnya. Ia juga mengutip hadis Rasulullah saw, “Kullukum rā’in wa kullukum mas’ūlun ‘an ra’iyyatihi,” bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab kepemimpinan, minimal terhadap diri sendiri.
Sebagai contoh, Wahyudi menyinggung persoalan sederhana yang kerap terjadi di kalangan mahasiswa, seperti kebiasaan datang terlambat akibat kurang disiplin mengatur waktu. Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan pentingnya kemampuan memimpin diri sendiri sebagai fondasi kepemimpinan yang lebih luas.
Lebih lanjut, Wahyudi menegaskan bahwa Rasulullah saw telah memberikan teladan kepemimpinan yang berkemajuan. Nilai-nilai seperti shiddiq (kejujuran), amanah (kepercayaan), adil, ihsan, berorientasi masa depan, serta istiqamah dalam kebaikan menjadi prinsip utama yang perlu ditanamkan kepada generasi muda guna membangun integritas di ruang sosial.

Lalu, Wahyudi mengutip pemikiran Ibnu Khaldun yang menjelaskan bahwa salah satu faktor kemunduran umat Islam adalah merosotnya kualitas moral. Karena itu, ia menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai akhlak dalam kehidupan. “Ini harus kita jaga, kalian harus mengedepankan akhlak, mengedepankan moral”.
Sebagai bagian akhir, pakar ilmu ekonomi ini berpesan bahwa seorang pemimpin perlu memiliki dan memperhatikan tujuan (goals) yang jelas dalam setiap langkah kepemimpinannya. Tujuan tersebut tidak boleh semata-mata berorientasi pada kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan harus berpijak pada nilai-nilai yang lebih luas.
Dalam Islam, dikenal konsep maslahah, yakni prinsip mempertimbangkan kebermanfaatan dari setiap kebijakan dan keputusan. Maslahah menuntut seorang pemimpin untuk menimbang dampak jangka pendek maupun jangka panjang, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain, masyarakat, serta keberlangsungan semesta alam.
Persyarikatan Muhammadiyah telah menerapkan konsep kepemimpinan yang berorientasi pada maslahah dan berlandaskan maqāṣid al-syarī‘ah. Dalam kerangka inilah Muhammadiyah memberi perhatian serius pada berbagai aspek kehidupan umat dan masyarakat. Bidang keagamaan dijalankan secara konsisten, isu lingkungan turut digerakkan, serta penguatan peran perempuan diwujudkan melalui gerakan ‘Aisyiyah.
“Dalam upaya menjaga ḥifẓ al-‘aql, Muhammadiyah membangun dan mengelola lembaga pendidikan. Pada aspek ḥifẓ al-māl, Muhammadiyah mengembangkan gerakan ekonomi dan kemandirian umat. Sementara itu, ḥifẓ al-nasl diwujudkan melalui pendirian dan pengelolaan berbagai panti asuhan dan lembaga sosial Muhammadiyah,” tutupnya. (anny/aik)