
Kuliah Sabtu Pagi (KSP) yang diselenggarakan oleh BPP MKWK Universitas Muhammadiyah Malang resmi dimulai pada semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa yang menempuh Mata Kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) III/Kemuhammadiyahan serta AIK Kelas Khusus. (29/11/2025)
Hadir sebagai narasumber pada pelaksanaan KSP perdana ini adalah Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S. Dalam pengantarnya, beliau menekankan pentingnya niat, nilai, dan kesadaran spiritual dalam proses belajar mahasiswa.
“Saat saya bertemu dengan para mahasiswa UMM dari berbagai latar belakang ini, pasti punya niat baik, dan pasti di dalamnya ada nilai-nilai ibadah,” ucapnya yakin.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Sasmito mengajak mahasiswa membaca posisi dirinya sebagai bagian dari sebuah generasi. Ia menekankan bahwa keberlanjutan sebuah peradaban sangat ditentukan oleh kemampuan generasi muda menjaga nilai dan etos perjuangan para pendahulunya.
“Keberadaan sebuah generasi sangat penting, apabila kamu tidak kehilangan nilai-nilai etos KH. Ahmad Dahlan,” tutur Wakil Ketua PWM Jawa Timur.
Penjelasan tersebut disampaikan dengan memaparkan karakteristik tiap-tiap generasi secara kontekstual. Prof. Sasmito mengingatkan bahwa umat Islam pernah mengalami krisis di berbagai bidang akibat penjajahan yang terjadi di banyak belahan dunia, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut hanya dapat dilampaui berkat kehadiran tokoh-tokoh yang memiliki etos belajar dan bekerja yang kuat, salah satunya diwariskan oleh KH. Ahmad Dahlan. Nilai itulah yang menjadi fondasi lahirnya kemajuan umat hingga hari ini.

“Belajar itu adalah pelajaran yang harus kita lakukan sampai titik darah penghabisan”. Prof. Sasmito menegaskan bahwa belajar adalah proses seumur hidup. Usia bukan alasan untuk berhenti bertumbuh. Semangat belajar harus senantiasa dijaga agar setiap fase kehidupan dapat memberi manfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat luas.
“KH. Ahmad Dahlan itu tidak hanya ngomong, tidak hanya belajar tapi juga nglakoni (melakukan),” tegasnya.
Nilai etos belajar yang diwariskan oleh KH. Ahmad Dahlan menjadi fondasi penting dalam pesan yang disampaikan Prof. Sasmito kepada mahasiswa. Etos tersebut tidak hanya hadir sebagai sejarah, tetapi relevan untuk dibaca ulang dalam konteks generasi hari ini.
Pertama, belajar dipahami sebagai kewajiban sepanjang hayat. Bagi KH. Ahmad Dahlan, proses belajar tidak berhenti pada batas usia, gelar akademik, maupun posisi sosial. Semangat menuntut ilmu harus terus hidup hingga akhir hayat, karena setiap fase kehidupan membawa tanggung jawab dan ruang pengabdian yang berbeda.
Kedua, KH. Ahmad Dahlan mencontohkan pentingnya menggabungkan ilmu agama dan ilmu sains modern. Bagi beliau, ilmu dipahami sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Pengetahuan keagamaan berfungsi sebagai fondasi moral dan spiritual, sementara ilmu pengetahuan modern menjadi sarana untuk membaca realitas dan menjawab tantangan zaman.
Sejalan dengan itu, Sasmito menegaskan bahwa Islam tidak mengenal dogmatisme. Artinya, pengajaran akidah tidak boleh berhenti pada penanaman dogma semata, melainkan harus disertai dengan proses berpikir kritis, pemahaman rasional, dan kepekaan terhadap konteks sosial yang terus berubah.
Perpaduan antara ilmu agama dan ilmu modern inilah yang kemudian melahirkan insan berilmu yang tidak tercerabut dari nilai-nilai keislaman, sekaligus mampu berkontribusi secara nyata bagi kemajuan masyarakat.
Ketiga, etos belajar KH. Ahmad Dahlan tidak berhenti pada aktivitas menuntut ilmu, tetapi berlanjut pada tanggung jawab untuk mengajarkannya. Ilmu pengetahuan, dalam pandangan beliau, tidak boleh berhenti sebagai konsumsi pribadi. Setiap individu yang telah belajar memiliki kewajiban moral untuk berbagi, mencerahkan, dan menyalurkan pengetahuan demi kemaslahatan bersama. Inilah yang kemudian menjadikan belajar sebagai jalan ibadah sekaligus pengabdian sosial.
Dengan memahami tiga etos belajar ini, mahasiswa tidak hanya diajak menjadi pembelajar yang tekun, tetapi juga menjadi bagian dari generasi yang menjaga nilai, merespon zaman, dan memberi manfaat nyata bagi kehidupan. (anny/aik)