
Kamis malam (30/10/25) di Majid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang terasa lebih hangat dari biasanya. Selepas maghrib, puluhan mahasiswa berkumpul di Masjid AR Fachruddin untuk mengikuti Kajian Al-Qur’an Maghrib Isya (Kamisya). Kajian rutin yang diinisiasi oleh BPP MKWK ini menjadi ruang bertemu, dan belajar, khususnya bagi Gen 2025.
Pekan ini, tema yang diangkat adalah “Beyond Circle: Teman yang Menguatkan Ilmu dan Iman” dengan narasumber Dr. Fauzik Lendriyono, S.Sos., M.Si, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM. Dalam penyampaian materinya, Dr. Fauzik menyoroti fenomena sosial yang dihadapi anak muda masa kini.
“Anda semua hidup di sebuah zaman yang hampir sulit membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, istilahnya normative dan permissive, batasannya sangat tipis sekali,” ucapnya saat membuka kamisya.
Fauzik menjelaskan, di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, lingkungan pertemanan memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan arah hidup seseorang. “Menentukan masa depan itu dari sekarang,” tegasnya. Menurutnya, konsep beyond circle adalah upaya membangun komunitas yang tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga wadah untuk memperkuat ilmu dan iman secara beriringan. Melalui kegiatan seperti kajian kamisya, mentoring, dan diskusi, komunitas dapat menjadi ruang dukungan yang sehat dan produktif bagi mahasiswa.
“Dalam konteks inilah, kita berharap lingkungan kampus ini menjadi support bagi mahasiswa,” tambahnya.
Memperkuat Ukhuwah
Di tengah kesibukan akademik dan derasnya arus digital, mahasiswa membutuhkan ruang untuk tetap terhubung secara emosional dan spiritual. Dr. Fauzik memberikan apresiasi terhadap semangat sosial mahasiswa UMM yang masih tinggi.
“Saya sangat salut ada beberapa komunitas-komunitas mahasiswa yang menggalang dana sosial untuk diberikan kepada yang membutuhkan,” ungkapnya dengan bangga.
Ketua Majelis Pelayanan Sosial PDM Kota Malang ini menyebutkan, aktivitas ini menjadi bukti bahwa generasi muda belum kehilangan kepedulian sosial, sekaligus membantah stigma bahwa Gen Z cenderung apatis terhadap lingkungan sekitar. “Saya yakin mahasiswa UMM memiliki kepedulian itu,” lanjutnya.
Kepedulian sosial, menurutnya, tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari individu-individu yang memiliki kesamaan visi dan nilai. Ketika seseorang bergabung dalam komunitas dengan semangat yang sama untuk belajar, berbuat baik, dan saling mensupport maka terbentuklah jejaring ukhuwah yang saling menguatkan.
Inilah yang menjadi inti dari beyond circle: bukan hanya berteman karena kesenangan, tetapi karena cita-cita bersama untuk menjadi lebih baik.
Merawat Tradisi Keilmuan
Lebih jauh, Dr. Fauzik menyinggung tentang cara Gen Z menghidupkan tradisi keilmuan. Menurutnya, diskusi dan kajian hari ini tidak harus berlangsung di ruang formal.
“Diskusi atau kajian anak Gen Z kerap kali digelar di ruang-ruang santai, café, warung kopi atau sejenisnya,” ujarnya.
Tempat yang sederhana justru sering menjadi ruang kreatif untuk bertukar pikiran. Dari sana lahir ide-ide segar, inovatif, bahkan gagasan untuk kegiatan sosial yang berdampak nyata. Gaya berkumpul yang santai ini menunjukkan bahwa keilmuan bisa dirawat dengan cara yang relevan dengan zaman, tanpa kehilangan nilai dan semangat belajar dalam Islam.
Menguatkan Spiritualitas Mahasiswa
Kegiatan Kamisya tidak sekadar menjadi forum kajian, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan kesadaran spiritual mahasiswa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk menghidupkan kembali tradisi ruhani di lingkungan kampus mulai dari shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an hingga mengikuti kajian selepas waktu Maghrib. Tujuannya sederhana namun bermakna: agar mahasiswa tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedekatan dengan Allah SWT.
“Harapannya, apa yang telah diupayakan oleh UMM akan menjadi modal untuk masa depan anda. Tentunya itu modal kebaikan”
Di akhir kajian, Dr. Fauzik mengutip teori modal sosial Fukuyama yang relevan untuk mahasiswa masa kini. Ia menyebut ada empat modal penting yang perlu dibangun oleh setiap individu. Pertama, skill. Mahasiswa harus memiliki keterampilan yang terus diasah, karena kemampuan inilah yang akan membuka peluang di masa depan. “Skill bisa dipersiapkan mulai sekarang,” ujarnya. Kedua, trust atau kepercayaan. Fauzik menekankan pentingnya menjadi pribadi yang dapat dipercaya oleh masyarakat. “Building trust itu susah. Sekali anda dipercaya orang, jangan coba-coba mencederai kepercayaan itu,” tegasnya.
Ketiga, networking atau jaringan. Menurutnya, mahasiswa harus aktif berorganisasi dan membangun relasi dengan banyak orang, karena jejaring sosial yang kuat akan menjadi modal penting dalam perjalanan karier maupun pengabdian sosial.
Terakhir, norma atau value. Dalam setiap langkah, mahasiswa perlu berpegang pada nilai dan norma yang berlaku. “Jangan melanggar norma,” pesannya menutup kajian malam itu.
Melalui refleksi tersebut, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa ilmu, iman, dan lingkungan yang baik akan membentuk pribadi yang utuh yakni anggun secara moral dan unggul secara intelektual. (anny/aik.)