Dr. Ahmad Shobrun Jamil, S.Si., M.P (Kemeja Hijau) sebagai narasumber tunggal dalam Kajian Al-Qur’an Maghrib Isya’ (Foto: Akram)

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman,” demikian makna QS. Yunus ayat 57 yang dikutip oleh Dr. Ahmad Shobrun Jamil, S.Si., M.P saat membuka kajian Al-Qur’an Maghrib Isya (Kamisya) pada 16 Oktober 2025 di Masjid AR Fachruddin Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

“Tubuh manusia itu punya dua bagian, ada jasad dan ruh; ada fisik dan nonfisik. Bagian nonfisik ini disebut jiwa, dan kesehatan jiwa sering kali terabaikan,” ucap dosen Program Studi Farmasi UMM tersebut. Ia menambahkan, mengutip sejumlah penelitian, bahwa satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental. Gangguan ini sering tidak disadari oleh penderitanya karena gejalanya bersifat psikologis dan emosional. Bentuk gangguannya beragam, seperti depresi, anxiety, skizofrenia, eating disorder, hingga kecanduan perilaku tertentu.

Media Sosial dan Gangguan Kesehatan Mental

Dalam pemaparannya, Shobrun menampilkan data Daily Time Spent With Media Indonesia tahun 2023 yang menunjukkan bahwa sebagian besar waktu pengguna internet tercurah pada aktivitas daring, terutama media sosial. Rata-rata pengguna berusia 16–64 tahun menghabiskan 3 jam 18 menit setiap hari untuk media sosial. “Khusus anak muda, kemungkinan bisa melebihi atau mendekati angka itu, karena mereka menggunakan perangkat digital dan media sosial jauh lebih intens,” ujarnya.

“Sadar atau tidak sadar, lembaga survei ini menghitungnya lewat screen time yang kita daftarkan dengan IMEI. Apa yang paling banyak dicari? Ternyata mayoritas adalah hiburan. Mencari hiburan, tapi kok malah makin stres?” tanya Sekretaris Pusat Studi Penelitian & Pengembangan Produk Halal UMM ini.

Menurut Shobrun, konten pendek yang dikonsumsi setiap hari kerap menggeser aktivitas penting seperti membaca mendalam, berdiskusi langsung, berolahraga, dan tidur cukup, semuanya berperan besar dalam menjaga keseimbangan mental. Akibatnya, muncul brain-rot berupa kelelahan fisik, gangguan konsentrasi, penurunan daya pikir kritis, kecemasan, serta menurunnya kemampuan bersosialisasi.

Al-Qur’an Sebagai Terapi Ruhani

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (syifā’) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman; dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang zalim selain kerugian” (QS. al-Isra’: 82)

“Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai as-syifā’, yang di dalamnya terdapat pelajaran, penyembuh bagi penyakit dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman,” tegas Shobrun. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab hukum atau pedoman moral, tetapi juga berfungsi terapi ruhani. Ia menyembuhkan penyakit hati seperti kecemasan, iri, kecewa, dan rasa hampa. Membaca Al-Qur’an dengan hati yang hadir dapat menenangkan pikiran dan memberi arah hidup yang bermakna.

Sebagai penutup, Shobrun berpesan agar mahasiswa terhindar dari kebisingan dunia digital dan gangguan kesehatan mental dengan cara mengatur batas screen time, menyusun piramida konten yang sehat, rutin berolahraga, menjaga pola makan, mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, menjaga salat, serta terus menambah ilmu melalui membaca, ta’lim, berdiskusi, dan berkonsultasi. (anny/aik)