Adab Mencapai Keberkahan Ilmu

Kamis, 16 Mei 2024 01:14 WIB   AIK & MKWK

Adab mencapai keberkahan ilmu dikupas dalam Kuliah Ahad Subuh mahasiswa UMM di Masjid AR Fachruddin, Ahad (12/5/24).

Hadir sebagai pembicara Wakil Rektor I UMM Prof Akhsanul In’am PhD. Acara digelar oleh Bagian Pengembangan al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan MKWK Universitas Muhammadiyah Malang.

Kuliah Ahad Subuh (KAS) secara hybird (offline dan online) ini diikuti 11.000 mahasiswa dari setiap program studi.

Akhsanul In’am mengajak para mahasiswa untuk merenungi kandungan makna surat al-Mujadilah ayat 11.

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Allah meninggikan derajat orang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.

“Allah itu akan memosisikan umat-Nya berdasarkan dua hal. Pertama, kadar iman dan yang kedua, kadar ilmu. Orang-orang yang beriman dan berilmu inilah yang akan mempunyai derajat tinggi di sisi Allah,” jelas In’am menafsiri ayat itu.

Menurut In’am, seorang mahasiswa harus memiliki perencanaan yang matang saat studi. ”Tema kita saat ini menengok pakar, menaja barakah. Tahukah kalian apa itu menaja?” tanyanya.

In’am menerangkan, menaja artinya merancang atau merencanakan. Dalam menuntut ilmu mahasiswa membutuhkan perencanaan bukan hanya belajar.

Dia mengajak mahasiswa menengok beberapa potret ulama dalam menuntut ilmu. Di antaranya al-Zahrawi, al-Jazari, Ibn al-Haytham, Jabir al-Hayyan, Ibnu Shina, dan al-Khawarizmi.

Para ulama dahulu itu, kata dia, bersungguh-sungguh dan sabar dalam menuntut ilmu. Hingga akhirnya dapat melahirkan banyak karya monumental yang bisa kita nikmati sampai sekarang.

“Paling tidak ada enam adab agar dalam mencari ilmu ya ilmunya itu bermanfaat. Karena kalau hanya belajar-belajar tanpa adanya perencanaan maka akan cepat lupa dan hilang begitu saja. Itulah salah satu ciri hilangnya barakah ilmu,” tegasnya.

Enam adab mencapai keberkahan ilmu yaitu kecerdasan, kesabaran, kesungguhan, biaya, bimbingan guru, dan membutuhkan waktu panjang.

Kecerdasan ada dua macam. Pertama, muhibatun minallah (kecerdasan yang diberikan oleh Allah). Contoh, seseorang yang memiliki hafalan yang kuat.

Kedua, muktasab (kecerdasan yang didapat dengan usaha) misalnya dengan cara mencatat, mengulang materi yang diajarkan, dan berdiskusi.

”Bisa jadi ketika kita tidak bisa dalam suatu bidang tertentu mungkin kita kurang maksimal mencapainya. Belajar kalau terus-terusan, continue maka akan menjadi bisa. Maka kita perlu mengusahakan yang muktasab ini,” tegasnya.

Ada sebuah ungkapan, sambungnya, orang yang cerdas adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar.

Dari sini sangat jelas, belajar itu membutuhkan kesabaran dan kesungguhan. ”Pasti Allah akan uji kesungguhan kita dalam menuntut ilmu, jika lolos dalam menjalaninya maka akan dinaikkan tingkat dari yang sebelumnya,” ujarnya.

In’am juga meminta mahasiswa memastikan biaya yang digunakan selama studi berasal dari yang halal. Biaya yang diperlukan sudah seharusnya terbebas dari yang haram.

Dua syarat yang terakhir adab mencapai keberkahan ilmu adalah bimbingan guru dan perlunya waktu.

Kehadiran guru dalam proses belajar menjadi penting. Tanpa guru mudah tersesat tanpa petunjuk arah. Proses menuntut ilmu membutuhkan waktu yang panjang supaya didapatkan kepahaman yang baik dan mengamalkannya agar bermanfaat.

 

Tulisan ini telah dimuat di pwmu.co pada Rabu 15 Mei 2024

Shared: